Kalian suka nonton anime? Ya kali mampir ke blog ini tapi gak suka nonton anime. Walaupun tidak bisa dibilang suka setidaknya kalian pasti pernah dong nonton anime sekali dua kali waktu kalian kecil atau sampai sekarang pun mungkin masih kalau kalian nonton Doraemon. Nah anime tuh apa sih? Anime berasal dari kata dalam bahasa Inggris animation yang berarti animasi atau secara sederhana 'gambar bergerak'. Kebanyakan orang Jepang tidak terlalu fasih berbahasa Inggris, kalaupun bisa biasanya 'logat' Jepang-nya kentara. Hanya sebagian kecil orang Jepang yang mendalami bahasa Inggris biasanya untuk keperluan pekerjaan seperti dinas di luar negeri atau bertugas sebagai diplomat atau menjadi aktor/aktris yang go international sehingga bahasa Inggris menjadi bahasa wajib dikuasai.
Kata-kata dalam bahasa Inggris seringkali diserap oleh bahasa Jepang dan menghasilkan kata-kata yang terdengar unik biasa disebut Japan-English atau Japanglish. Beberapa contoh kata 'Japanglish' antara lain Makudonarudo (McDonald's), Guguru (Google), Toiletto (toilet), KittoKatto (KitKat), Dizunilando (Disneyland), Takushi (Taxi), Hoteru (hotel), Sebun Elebun (Seven Eleven), Miruku (milk), Basu (bus), Biru (beer), Sutabakkusu (Starbucks)... yee malah nyanyi. Nah dari sekian banyaknya Japanglish, kata animation dalam bahasa Jepang jadi 'animeshon' di mana seiring berjalannya waktu kata tersebut disingkat menjadi anime dan sampai sekarang menjadi istilah umum untuk menyebut sebuah karya animasi bergaya Jepang, berbahasa Jepang, dan diproduksi di (oleh) Jepang.
Sama halnya dengan Jepang, industri animasi sudah sangat berkembang di berbagai negara Asia lainnya seperti Cina dan Korea. Perlu diingat bahwa penyebutan karya animasi Cina adalah 'donghua' sedangkan karya animasi Korea disebut 'hanguk aeni' atau 'guksan aeni'. Karya serupa dengan 'manga' Jepang di Cina disebut 'manhua' sedangkan di Korea disebut 'manhwa'. Saya pribadi merasa ini perlu diketahui para penggemar sebagai bentuk respect dan harapan ke depannya tidak muncul kata-kata seperti anime Cina, anime Korea, manga Cina, manga Korea, dsb. Terkadang saya pernah membaca kata-kata seperti "...eh ini drakor Jepang bagus" padahal istilah 'drakor' berarti drama Korea. Di Jepang acara drama biasa disebut 'dorama' atau kalau tidak familiar ya sebut saja drama Jepang. Mungkin sepele tapi sebaiknya jangan dibiasakan karena kesalahan (kebohongan, misinformasi) yang dibiarkan (dibiasakan, diucapkan terus-menerus) lama-lama akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Sebagai contoh yang lokal nih, sering nggak sih kalian denger atau baca "...liburan ke Candi Borobudur di Jogja" padahal faktanya Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah. Hal-hal semacam ini perlu diajarkan sejak dini agar generasi selanjutnya selalu ingat dan paham fakta sebenarnya.
Kembali ke anime, pernahkah ada pertanyaan terlintas seperti "trus bedanya anime dengan kartun (cartoon) apa?". Well, secara teknis anime dan kartun memiliki persamaan di mana mereka sama-sama tersusun oleh unsur animasi 'gambar bergerak' tapi berdasar pada gaya gambar dan tujuannya mereka memiliki perbedaan. Kartun juga biasa dikenal sebagai western animation. Kartun sejak dulu identik dengan gaya gambar non-realis atau bisa juga semi-realis di mana tokoh di dalamnya dibuat seperti sebuah karikatur (punya bagian tubuh menonjol (lebih besar/biasanya kepala) daripada yang lain untuk menunjukkan ciri khas karakter tersebut. Tokoh dalam kartun tidak hanya manusia tetapi juga binatang atau makhluk hidup selain manusia yang mendapat treatment 'antropomorfisme' di mana karakter tersebut memiliki motivasi manusia, dapat berpikir dan berbicara atau bertindak seperti manusia dalam bentuk asalnya. Kartun identik dengan tujuan sebagai hiburan, lucu, komedi satir, ceritanya lebih komikal, dan tidak masuk akal. Secara umum kartun diciptakan untuk membuat penonton tertawa. Contohnya Tom and Jerry, Mickey Mouse, dan sebagainya. Kebanyakan anime berfokus pada isu kehidupan atau hal-hal yang dekat dengan emosi manusia, terkadang bertema kekerasan bahkan seksual. Walaupun tidak jarang juga anime-anime berisi hal-hal tidak masuk akal dan sekadar hiburan. Nah kurang lebih seperti itu perbedaan anime dengan kartun. Jadi jangan menyalahkan orang-orang yang tersinggung ketika anime disamakan dengan kartun karena secara konsep sudah berbeda.
Selanjutnya, di kalangan penggemar anime (terlebih yang baru masuk) sering muncul pertanyaan seperti "ini kapan season selanjutnya?", "ini kenapa tidak dapat season lanjutan?", "kok animasinya jelek gini?", "kenapa ini diganti? kenapa itu diganti?", "kenapa begini? kenapa begitu?" dan masih banyak lagi pertanyaan seputar produksi anime. Bagi kalian yang penasaran atau terkadang tidak puas terhadap suatu anime perlu wajib pake banget nonton anime berjudul "Shirobako". Anime original (bukan adaptasi) karya studio P.A. Works yang terkenal lewat serial anime Angel Beats!, Another, dan Charlotte ini dirilis pada musim gugur tahun 2014 sebanyak satu musim berisi 24 episode, beberapa episode spesial dan pada tahun 2020 mendapatkan proyek film layar lebar.
"Shirobako" bercerita tentang sebuah perusahaan produksi anime yang sedang berada dalam masa perilisan anime original mereka. Produksi anime melibatkan banyak sekali orang dengan keahliannya masing-masing yang disatukan ke dalam sebuah proyek bersama. Kalian bisa melihat bagaimana para pekerja di bidang kreatif berusaha memenuhi target yang ditentukan. Banyak drama yang disajikan dalam anime ini sehingga kalian bisa sedikit menyadari dan bersimpati terhadap para pekerja di industri anime. Kalian akan menonton karakter anime yang sedang memproduksi sebuah anime di dalam studio anime di dalam suatu anime. Bingung? Nggak dong.
Penasaran? Langsung saja kita lihat beberapa cuplikan adegan di anime "Shirobako"
 |
| Suasana rapat tim produksi anime |
 |
| Penampakan meja kerja animator menggambar secara manual |
 |
| Penampakan ruang kerja studio anime |
 |
| Kepala studio memberikan motivasi dan semangat kepada para staff |
 |
| Proses pengisian suara |
 |
| Perlu konsentrasi tinggi dan ketelitian supaya tidak terjadi kesalahan |
 |
| Proses pewarnaan secara digital |
 |
| Manajer umum melakukan beberapa supervisi |
 |
| Saling menghubungi memastikan setiap bagian terselesaikan |
 |
| Mengecek ulang secara teliti semua bagian yang diperlukan |
 |
| Memberikan koreksi dan masukan pada bagian yang belum selesai |
Biasanya para staff studio anime bekerja di ruangan terpisah sehingga sering menelpon memastikan pekerjaan segera diselesaikan bahkan terkadang animator berasal dari luar studio (freelance) sehingga perlu koordinasi yang baik. Biaya produksi satu musim anime berisi 13 episode menurut Masamune Sasaki (CG creator in the anime industry) pada tahun 2015 adalah sebesar 250 juta yen atau 2 juta dollar, bayangkan berapa biaya yang dibutuhkan pada tahun-tahun selanjutnya mengingat adanya inflasi. Dalam produksi anime diperlukan banyak pertimbangan seperti halnya biaya, apakah bisa menghasilkan keuntungan? Untuk itu tidak sembarang cerita bisa mendapat adaptasi anime dan tidak sembarang anime mendapat sekuel atau proyek sejenis. Belum lagi membahas lisensi dan hal-hal tetek bengek lainnya. Memproduksi anime itu butuh kerja keras sehingga sebagai penggemar sebaiknya menonton di platform resmi. Sekarang sudah banyak tersedia bahkan ada yang gratis seperti iQIYI atau saluran YouTube "Muse Indonesia". Bagikan postingan ini jika bermanfaat.
Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar kritik dan saran untuk tulisan-tulisan selanjutnya. Ciao!
Komentar
Posting Komentar